MUDP Rayakan Hari Jadinya Yang ke-Tujuh

Denpasar-BSB. MUDP (Majelis Utama Desa Pakraman ) merayakan hari jadinya yang ke tujuh kemaren malam, Rabu (16/3) bertempat di gedung Ksirarnawa, art center Denpasar. Selain dihadiri oleh seluruh Majelis Desa Pakraman se-Bali, juga dihadiri oleh beberapa undangan lainnya seperti Bupati dan Walikota se-Bali,ketua PHDI Bali serta pakar Hukum adat Prof. Windia.
Dalam sambutannya, bendesa agung MUDP menyampaikan Tujuh program unggulan desa pakraman yang dirumuskan pada Pesamuan Agung ke tiga tahun 2010. Ketujuh program Unggulan itu diantaranya adalah
1. Mempertahankan jiwa permana atau rohnya desa pakraman di Bali yang di jiwai agama Hindu
2. Memperjuangkan diakuinya secara tegas desa pakraman sebagai subyek hukum yang mempunyai hak atas tanah berdasarkan undang – undang  ataupun peraturan lainya yang berlaku
3. Mempertahankan hukum adat Bali termasuk hukum keluarga yang dilandasi ajaran agama Hindu yang merumuskan kesatuan tafsir tentang hukum adat Bali
4. Mengoptimalkan fungsi dan peran desa pakraman beserta jajaran majelis desa pakraman dalam menyelesaikan kasus – kasus adat berdasarkan hukum adat di Bali.
5. Memperjuangkan penyelesaian perkara adat yang telah diselesaikan oleh desa pakraman dan jajaran MDP Bali supaya mendapat legitimasi lembaga peradilan Negara.
6. Memperjuangkan dibebaskanya kekayaan atau duwe desa pakraman dari kewajiban tertentu terhadap Negara dan lembaga – lembaga atau organisasi lain di luar desa pakraman
7. Memperjuangkan adanya mata pelajaran hukum adat Bali pada jalur pendidikan formal dari jenjang SMP dan SMA di bali.
Beliau juga menambahkan bahwa tujuh program unggulan desa pakraman merupakan program strategis yang diperas berdasarkan kajian adat dan budaya Bali pada abad terakhir, bukan saat ini saja tapi sejak saat Bali memasuki era pelepasan dari masa kolonialisasi Belanda.
“Pengurus boleh saja berganti setiap lima tahun sekali, akan tetapi program strategis ini harus tetap di perjuangkan hingga terwujud nyata”. Ujarnya.
Dalam sambutannya beliau juga menyampaikan agenda kerja Majelis Desa Pakraman yakni,segera melaksanakan sosialisasi dan pertemuan intensif ke kabupaten kota sebali terkait tujuh program unggulan, terutama terkait dengan penyusunan kembali perda yang berkaitan dengan desa pakraman dan memperjelas linggih, peran dan sesana desa pakaraman.
Dalam kesempatan itu, Gubernur Bali Made Mangku Pastika juga menyampaikan bahwa “Masyarakat Bali sedang mengalami proses transformasi sosial budaya baik dari lingkungan internal masyarakat sendiri maupun dari faktor eksternal. Hal ini  menyebabkan masyarakat Bali mengalami pergeseran, dari ciri – ciri masyarakat tradisional yang mengutamakan nilai – nilai sosial komunal, mengembangkan kearifan lokal dan masyarakat religius berubah keciri – ciri masayarakat kota yang modern, eksploitatif, dan sekuler, tentu saja  hal itu menimbulkan keprihatinan”. ungkapnya.
Gubernur juga menghimbau kepada seluruh masyarakat Bali ditengah perkembangan global tidak lagi hanya ngotot dengan desa mawa cara, harus ada bali mawa cara, bahkan dalam hal – hal tertentu kita harus setuju pada Indonesia mawa cara, tidak bisa kita ngotot sendiri, kita akan hancur, paparnya.(dmk)

Leave a Reply