Menyoal Radikalisme Di Indonesia

Seminar Nasional : Yayasan Manikaya Kauci

Denpasar-BSB. Gerakan radikalisme, berbasiskan agama maupun berbasis etnis dan ideologi tertentu, ternyata semakin tumbuh subur di Indonesia. Bahkan, gerakan radikalisme ini semakin menemukan bentuknya yang nyata dan menjadi  ancaman pihak lain, manakala tak ada ketegasan dari pemerintah, terkait aksi mereka. Hal itu terungkap dalam Seminar yang digelar Yayasan Manikaya Kauci bertema “Fundamentalisme, Radikalisme dan Kekerasan Bernuansa Agama,” Kamis (7/10) siang tadi.

Para narasumber dalam kesempatan itu, seperti Pengamat Militer  dan Intelejen yang juga staf ahli Wakil Presiden Bidang Keamanan, Wawan Purwanto mengatakan, “Sejatinya  gerakan fundamentalisme itu adalah baik. Ia mengajarkan setiap orang untuk tunduk dan taat pada ajaran agamanya, hingga tingkat yang paling hakiki. Hanya saja, penyusupan, pemahanan ideologi yang setengah-setengah, menyebabkan gerakan ini berubah menjadi brutal. Maka diperlukan langkah yang arif dari Pemerintah untuk membimbing mereka kembali ke jalan yang sesuai dengan pengertian fundamentalisme itu sendiri,” tegas Wawan.

Lebih lanjut Wawan memaparkan, di beberapa Negara, gerakan radikal ini bahkan sudah menyasar pada anak-anak kecil. Anak-anak direkrut dan diajarkan cara menggunakan senjata, yang pada akhirnya membentuk karakter radikalisme yang begitu kuat. “Maka pula dalam konteks bela Negara, pelibatan anak-anak mesti dipertimbangkan secara masak,” saran dia.

Sementara itu, peneliti dari Universitas IAIN Sunan Ampel Surabaya menambahkan, munculnya gerakan radikalisme ini lebih disebabkan karena pemahaman teks ayat-ayat Tuhan yang parsial. Selain itu, alasan lainnya adalah ketidakpastian hukum, ketidaktegasan Pemerintah dan ketimpangan ekonomi. “Tentu saja dampak yang ditimbulkannya adalah kepercayaan pada institusi negara melemah, kecurigaan antar agama dan kelompok agama. Budaya kekerasan dalam penyelesaian masalah juga akhirnya menjadi pendekatan dalam menyelesaikan konflik. Kalau sudah begitu, invetor akan ragu menanamkan modalnya,” papar dia.

Direktur Yayasan Manikaya Kauci, Gunadjar SH, mengatakan, seminar ini dimaksudkan untuk mencari solusi atas pola kekerasan yang mengatasnamakan agama yang belakangan mulai menemukan titik terbaiknya. “Kita ingin memberikan kontribusi dari penyelesaian masalah ini,” katanya singkat. SA

Tags: , ,

One Response

  1. Weeh..sayang ga bisa hadir aku…stlh sy baca seharusnya peran dan dominasi negara hrs berani “represif”. Dlm teori Hukum Konstitusi negara hrs berperan sbg negara penjaga malam (“nacht waakeer staat”). Pola ini sempat &slalu digunakan untuk merepresi kaum prodem/klmpk kiri yg dimotori oleh mahasiswa dan kaum intelektual. Tp saat ini peran negara sebaliknya “seolah2″ memelihara radikalisme dan separatisme. Tanpa melakukan upaya preventif. Maka jgn heran radikalisme tumbuh subur. Termasuk pula penciptaan Pam Swakarsa adalat alat terbaik untk pembenihan radikalisme. Contoh FBR. FPI, kelompok atau ormas atas nama suku yg intinya adalah aksi “premanisme”. Dan ini tetap dijaga dan ditumbuhkan oleh aparat kepolisian. Wlahualam…radikalisme tdk dpt di tumpas…

Leave a Reply